Banyak
anggapan bahwa membaca pikiran adalah pekerjaan seorang psikolog,
paranormal atau bahkan dukun. Namun, percaya atau tidak, dalam kehidupan
sehari-hari, anda semua adalah seorang pembaca pikiran. Sebab, tanpa
kemampuan untuk mengetahui pikiran serta perasaan orang lain, kita semua
tak akan mampu menghadapi situasi sosial semudah apapun.
Dengan membaca pikiran, kita dapat membuat perkiraan tentang tingkah laku seseorang lalu membuat kita dapat menentukan keputusan berikutnya.
Dengan membaca pikiran, kita dapat membuat perkiraan tentang tingkah laku seseorang lalu membuat kita dapat menentukan keputusan berikutnya.
Jika
kita melakukan pembacaan ini dengan buruk, dampaknya bisa serius:
konflik bisa saja terjadi akibat kesalahpahaman. Contoh yang nyata
kesulitan mengenali pikiran dan perasaan orang lain (mindblindness), dapat dilihat pada penyandang autisme, dimana ketidakmampuan tersebut menjadi suatu kondisi yang mengganggu.
Darimana asalnya?
Kemampuan (terbatas) kita untuk membaca pikiran menurut Ross Buck – profesor Communication Sciences di University of Connecticut,
memiliki sejarah yang amat panjang. Dikatakannya bahwa, melalui jutaan
tahun evolusi, sistem komunikasi manusia berkembang menjadi lebih rumit
saat kehidupan juga menjadi lebih kompleks. Membaca pikiran lantas
menjadi alat untuk menciptakan dan menjaga keteraturan sosial; seperti
membantu mengetahui kapan harus menyetujui sebuah komitmen dengan
pasangan atau melerai perselisihan dengan tetangga.
Kemampuan
ini sendiri muncul sejak manusia dilahirkan. Bayi yang baru lahir lebih
menyukai wajah seseorang dibandingkan stimulus lainnya, dan bayi
berusia beberapa minggu sudah mampu menirukan ekspresi wajah.
Dalam 2 bulan, bayi sudah dapat memahami dan berespon terhadap keadaan emosional dari pengasuhnya. Nancy Eisenberg, profesor psikologi di Arizona State University
dan ahli dalam perkembangan emosional, menuturkan bahwa bayi berusia 1
tahun mampu mengamati ekspresi orang dewasa dan menggunakannya untuk
menentukan tingkah laku berikutnya.
Lanjutnya,
bayi usia 2 tahun mampu menyimpulkan keinginan orang lain dari tatapan
matanya, dan di usia 3 tahun, bayi dapat mengenali ekspresi wajah
gembira, sedih atau marah. Saat menginjak usia 5 tahun, bayi sudah
memiliki kemampuan dasar untuk membaca pikiran orang lain; mereka telah
memiliki “teori pikiran". Bayi tersebut mampu memahami bahwa orang lain
memiliki pemikiran, perasaan dan kepercayaan yang berbeda dengan yang
mereka miliki.
Anak-anak
tadi mengembangkan kemampuan membaca pikiran dengan mengamati
pembicaraan orang dewasa, dimana mereka membedakan kompleksitas aturan
dan interaksi sosial. Selain itu, kegiatan bermain dengan teman sebaya
juga dapat melatih anak untuk membaca pikiran anak lainnya. Namun, tak
semua anak bisa mengembangkan kemampuan ini. Anak-anak yang mengalami
penelantaran dan kekerasan cenderung mengalami hambatan dalam
mengembangkan kemampuan membaca pikiran ini. Sebagai contoh, anak yang
dibesarkan dalam keluarga yang penuh dengan kekerasan, mungkin akan jauh
lebih peka terhadap ekspresi marah, walaupun sesungguhnya emosi marah
tidak muncul.
Lanjut
lagi, kemampuan membaca pikiran yang lebih maju biasa muncul pada masa
remaja akhir. Hal ini terjadi karena kemampuan untuk menyimpan
perspektif dari beberapa orang di saat yang sama—dan lalu
mengintegrasikannya dengan pengetahuan kita dan orang yang bersangkutan
itu—seringkali membutuhkan kemampuan otak yang sudah jauh berkembang.
Bagaimana Membaca Pikiran?
Membaca
bahasa tubuh adalah komponen inti dari membaca pikiran. Lewat bahasa
tubuh, kita bisa mengetahui emosi dasar seseorang. Peneliti menemukan
bahwa ketika seseorang mengamati gerak tubuh orang lain, mereka dapat
mengenali emosi sedih, marah, gembira, takut dll, bahkan ketika
pengamatan hanya dilakukan dengan pencahayaan yang minim.
Ekspresi
wajah juga merupakan penanda bagi kita untuk dapat mengetahui apa yang
dipikirkan orang lain. Namun sayangnya, banyak dari kita yang tidak
mampu untuk mendeteksi ekpresi ini. Salah satu sumber yang kaya akan
penanda ini adalah mata seseorang; otot-otot di sekitar mata. Mata
seseorang adalah sumber penanda yang paling kaya jika dibandingkan
bagian lain yang ada di wajah. Contohnya: mata yang turun ketika sedih,
terbuka lebar ketika takut, terlihat tidak fokus kala sedang berkhayal,
menatap tajam penuh kecemburuan, atau menatap sekitarnya ketika tidak
sabar.
Kita
dapat semakin tahu pikiran orang lain dari komponen-komponen dalam
percakapan—kata-kata, gerak tubuh, dan nada suara. Namun diantara
ketiganya, Ickes menemukan bahwa isi pembicaraan menjadi komponen
terpenting dalam membaca pikiran dengan baik.
Menjadi Pembaca Pikiran Ulung
Lalu,
bagaimana kita bisa menjadi seorang pembaca pikiran yang lebih baik?
Tim dari Psychology Today telah merumuskan beberapa hal yang bisa
membantu kita membaca pikiran.
Kenalilah orang lain. “Kemampuan membaca pikiran akan meningkat, semakin kita mengenal lawan bicara kita,” kata William Ickes.
Jika kita berinteraksi dengan seseorang selama kurang lebih sebulan,
kita akan lebih mudah untuk mengenali apa yang ia pikirkan dan rasakan.
Hal tersebut dapat terjadi karena: kita mampu mengartikan kata-kata dan
tidakan orang lain dengan lebih tepat, setelah mengamatinya dalam
berbagai situasi; kedua, kita mengetahui apa yang terjadi dalam hidup
mereka, dan mampu menggunakan pengetahuan itu untuk memahami mereka
dalam konteks yang lebih luas.
Minta umpan balik.
Penelitian menunjukkan bahwa kita dapat meningkatkan kemampuan membaca
dengan cara menanyakan kebenaran dari tebakan kita. Misalnya, “Saya
mendengar, sepertinya engkau sedang marah. Benar tidak?”
Perhatikan bagian atas dari wajah. Emosi yang palsu, biasanya diungkapkan pada bagian bawah wajah seseorang. Sedangkan, menurut Calin Prodan—profesor neurologi di University of Oklahoma Health Sciences Center, emosi utama bisa dilihat dari sebagian ke atas wajah, biasanya di sekitar mata.
Lebih ekspresif. Ekspresivitas emosi cenderung timbal balik. Ross Buck,
“semakin kita ekspresif, semakin banyak pula kita akan mendapat
informasi mengenai kondisi emosional dari orang lain di sekitar kita.”
Santai. Menurut Lavinia Plonka, pengarang Walking Your Talk,
seseorang cenderung “menyamakan diri” dengan lawan bicaranya melalui
postur tubuh dan pola napas. Jika anda merasa tegang, teman bicara anda
bisa saja, secara tak sadar, menjadi tegang pula lalu terhambat, dan
akhirnya menjadi sulit untuk dibaca. Ambillah napas panjang, senyumlah,
dan coba untuk menampilkan keterbukaan dan penerimaan kepada siapapun
yang bersama anda.
Tinjauan Kritis
Perlu
kita ingat, bahwa ekspresi emosi bisa berbeda di berbagai budaya.
Ekspresi sedih di satu budaya, bisa jadi diinterpretasikan sebagai emosi
lain di budaya lain. Jadi jika ingin membaca seseorang, kita perlu
memperhatikan pula unsur budaya yang berlaku di tempat tinggal orang
itu, jangan sampai salah menebak, atau bahkan memicu terjadinya
kesalahpahaman.
Kita
juga tak bisa mengesampingkan fenomena membaca pikiran ini sebagai
sebuah fenomena yang biasa diasosisasikan dengan kemampuan supranatural,
sebab percaya tidak percaya, memang ada orang-orang yang memiliki
kemampuan untuk membaca pikiran yang sulit dijelaskan ilmu pengetahuan.
Setidaknya penulis telah menemukan beberapa orang dengan kemampuan
membaca pikiran, yang bahkan mampu melihat masa depan dan berbagai macam
hal yang sulit diterima nalar.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar